Seperti tahun lalu, Ramadhan tahun inipun penulis mendapat undangan dari KBRI Berlin untuk mengisi pembinaan rohani pada program Ramadhan yang diadakan oleh Pengajian Al Hikmah di lengkungan KBRI Berlin. Penulis berangkat dari Jakarta pada tanggal 13 Oktober 2004 jam 18.30 WIB. Setelah menempuh perjalanan selama 14 jam dengan pesawat, penulispun mendarat di Bandara Internasional Frankfurt German keesokan harinya pada jam 06.30 pagi Waktu setempat, setelah sebelumnya sempat transit dulu di Kuala Lumpur selama 2 jam. Cuaca di frankfut masih gelap sedang udara amat dingin dengan suhu yang belum pernah teralami di Indonesia bagian manapun, yaitu 6 derajat Celcius. Di frankfurt sudah ada dua orang yang menanti untuk menjemput penulis. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi setempat kami keluar bandara menuju tempat parkir mobil dengan menggunakan kereta yang sengaja disediakan oleh fihak bandara. Tidak lebih dari 5 menit kami sudah sampai di tempat parkir. Sulitnya fasilitas ibadah di negeri “orang” menyebabkan kami harus melakukan shalat subuh di jalan dengan bertayamum. Dari Frankfurt kami berangkat menuju Berlin dengan menggunakan mobil. jalanan yang mulus disertai kondisi mobil yang Prima dengan kecepatan rata-rata 130 km/jam menyebabkan jarak Frankfurt – Berlin yang berjarak 550 km bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam. Setiba di Berlin penulis beristirahat setelah mandi makan dan shalat dhuhur di rumah salah seorang diplomat Indonesia yang menampung penulis selama di Berlin. Berlin adalah ibukota German dengan jumlah penduduk sekitar 3,4 juta jiwa. Mayoritas penduduknya menyatakan diri tidak beragama (atheis) dan agama Kristen menempati ranking kedua dari segi jumlah penganut di kota ini. Adapun jumlah kaum muslimin di kota ini sekitar 6 prosen dari seluruh jumlah yang ada yang terdiri dari orang maroko, Turki, Libanon, Aljazair, dan dari beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Dari data statistik yang di dapat dari KBRI diperoleh keterangan bahwa penduduk yang beragama Kristen berjumlah 792 ribu orang, Katolik 309 ribu orang, Yahudi 12 ribu orang, dan Islam 206 ribu orang, sedangkan sisanya dinyatakan tidak beragama atau atheis. Sedang penduduk Jerman yang beragama Islam seluruhnya berjumlah 3.231.489 orang dengan rincian sebagai berikut :
================================================= Nomor Negeri asal Jumlah ================================================= 1. Turki 2.110.223
2. Bosnia Herzegovina 190.119
3. Iran 115.094
4. Marokko 82.748
5. Afghanistan 68.267
6. Libanon 55.074
7. Irak 44.752
8. Pakistan 38.095
9. Tunisia 24.549
10. Syiria 22.667
11. Aljazair 17.641
12. Mesir 13.976
13. Jordania 11.545
14. Albania 11.619
15. Indonesia 10.120
16. Jerman 100.000
17. Lain-lain 315.000 _____________________________________________________ Jumlah 3.231.489 ====================================================
Disini (Berlin) hak privasi setiap orang amat dinomorsatukan sehingga tidak boleh ada fihak, baik individu atau kelompok, mengadakan satu kegiatan apapun yang bisa mengganggu ketenangan individu atau komunitas yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu maka disini tidak boleh mengumandangkan adzan dengan suara yang dikeraskan hingga terdengar dan dianggap mengganggu ketenangan banyak orang. tak heran apabila di kota ini tak nampak syiar Islam sama sekali yang bersumber dari mesjid-mesjid yang ada sekalipun pada bulan ramadhan, baik syiar dari kegiatan pengajian, ataupun dari shalat taraweh. Mesjid-mesjid yang ada di Berlin berupa sebuah ruangan yang di sewa dan merupakan bagian dari suatu bangunan/gedung besar baik gedung apartemen maupun gedung perkantoran, tanpa ada ciri khas sama sekali baik berupa kubah atau menara. Petunjuk yang ada hanyalah sebuah plang berukuran kecil yang ditempel di dinding bangunan masjid tersebut. Umumnya yang mampu menyewa ruangan untuk dijadikan masjid adalah orang-orang maroko, Turki, dan Libanon, karena jumlah mereka relatif lebih banyak dibanding jumlah kaum muslimin dari negara lain termasuk dari Indonesia. Kaum muslimin Indonesia yang berjumlah kurang dari 50 persen dari seluruh WNI yang ada di Berlinpun (Jumlah WNI yang ada di Berlin kurang lebih 1300-an) saat ini telah mampu menyewa sebuah ruangan yang kemudian dijadikan sebagai sebuah mesjid dan diberi nama mesjid Al Falah. Ruangan berukuran kira-kira 80 m2 dengan fasilitas wc/ kamar mandi dan dapur dengan harga sewa 900 Euro (Kurang lebih Rp. 10 juta )per bulan ini dijadikan sebagai sentral kegiatan pembinaan keagamaan bagi masyarakat muslim Indonesia di Berlin dengan mengadakan acara pengajian, shalat jumat, bimbingan baca tulis Al Quran, dll. Bahkan ada pula warga negara lain yang ikut melibatkan diri dalam kegiatan tersebut seperti orang Aljazair, Turki, dan orang German sendiri, tentu saja yang sudah muslim.Biaya untuk membayar uang sewa didapat dari para donatur, kencleng, dan hasil usaha para pengurus masjid. Fihak KBRI sendiri, sekalipun tidak memiliki atase agama yang mengurus urusan keagamaan, akan tetapi ghirah yang cukup besar dari para personal staf KBRI baik homestaf ataupun lokal staf mengakibatkan pembinaan keagamaan ini cukup mendapat perhatian. Hal ini terbukti dari keterlibatan para staf KBRI dalam kegiatan yang diadakan di mesjid Al Falah baik dalam bentuk tenaga, dana, ataupun pemikiran yang amat besar sumbangsihnya terhadap gerak langkah da´wah di Berlin. Langkah nyata lain dari para staf KBRI ini adalah terbentuknya Forum pengajian yang mengakomodasi seluruh kegiatan da´wah di Lingkungan KBRI yang kemudian diberi nama Forum pengajian Al Hikmah. Salah satu program nyata dari forum ini adalah menyelenggarakan shalat taraweh setiap Ramadhan secara berjamaah berjamaah di aula KBRI dengan mengundang seorang ustadz dari Indonesia untuk memberikan bimbingan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Dan kebetulan bulan Ramadhan untuk tahun ini orang yang diundang itu adalah penulis. Shalat taraweh di KBRI diadakan setiap hari Senin sampai Jumat. Dimulai dengan shalat Isya, kemudian diteruskan dengan qiyam Ramadhan 11 rakaat dan dilanjutkan dengan ceramah yang diakhiri oleh tanya jawab dan diskusi. Acara ini diikuti oleh staf KBRI beserta keluarganya ditambah dengan para student Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota ini serta para pekerja swasta. Jumlah jamaah yang hadir tidak begitu banyak berkisar kurang dari 50 orang. Banyak kendala yang menghalangi orang untuk hadir di KBRI. Selain faktor cuaca dengan suhu yang amat dingin dan sering disertai dengan turunnya hujan, juga karena hari Senin sampai Jumat adalah hari kerja dan sekolah sehingga mereka kecapean dan memilih shalat di rumah. Belum lagi mereka harus mempersiapkan pekerjaan dan pelajaran untuk esok hari. Semua itu menjadi kendala yang cukup berarti bagi kehadiran mereka di KBRI. Khusus hari Jumat diadakan buka bersama sejak magrib. Jumlah jamaah yang hadir biasanya berlipat tiga sampai empat kali dari jumlah yang biasa hadir. Selain keesokan harinya adalah hari libur sehingga mereka tidak mempunyai beban berat pada malam sabtu itu, makanan gratis yang disediakan oleh ibu-ibu KBRI inipun mempunyai daya tarik tersendiri bagi kehadiran mereka. tak heran apabila jalannya diskusi pada malam Sabtu itu lebih hidup dan lebih menarik dari biasanya karena banyaknya pertanyaan yang terlontar dari para mahasiswa. Hari Sabtu dan Ahad tak ada kegiatan rohani apapun di KBRI. Sebagai gantinya pengurus masjid Al Falah mengadakan acara buka bersama hingga taraweh berjamaah. Jumlah yang hadir amat membludak mencapai ratusan orang. hal ini disebabkab karena Sabtu dan Ahad adalah hari libur bagi semua pelajar,mahasisiwa dan juga karyawan. jadi mereka datang sekeluarga untuk menghadiri acara buka bersama ini sehingga tak heran apabila sebagian jamaah tidak bisa ikut shalat taraweh karena tidak kebagian tempat.Belum lagi dengan banyaknya warga negara lain yang ikut shalat taraweh bersama masyarakat Indonesia, seperti Al Jazair dan Turki. Konsumsi buka bersama disediakan oleh kaum ibu. Karena yang masak orang Indonesia maka makanan yang disajikanpun tentu saja makanan Indonesia dengan bahan makanan yang dibeli dari pasar makanan orang Turki atau Maroko yang disudah berlebel halal, sebab orang Turki dan Maroko memiliki tempat menyembelih sendiri sehingga bisa dilakukan penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam. Adapun bahan makanan atau makanan jadi yang dijual di pasar/swalayan umum tentu saja tidak bisa dikonsumsi oleh kaum muslimin. Pada hari Sabtu itu mereka masak agak berlebih dari hari biasa untuk dibawa ke masjid sebagai konsumsi buka shaum. Mereka melakukan itu atas adanya dorongan dari hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan :” Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang shauma maka dia akan memperoleh pahala sebanyak pahala yang diperoleh oleh orang yang shaum tanpa mengurangi pahala orang yang shaumnya sedikitpun.” (HR Ahmad dan An Nasai dan disahihkan oleh Albany). Biasanya makanan sampai berlimpah dan sisanya dibagikan kepada para mahasiswa yang masih bujang untuk santap sahur mereka di tempat kost mereka. Hari Ahad tak ada kegiatan rohani apapun di KBRI atau Al Falah, semuanya libur. Bagi penulis yang datang ke Berlin untuk berda’wah biasanya ada undangan dari kedutaan negara lain, seperti Malaysia dan Bruney untuk buka bersama sampai taraweh, atau pergi keluar kota untuk berda’wah atas undangan KJRI setempat, seperti kota Frankfurt, Hamburg, dan kota lain. Ketika tulisan ini diturunkan (7 ramadhan) penulis masih di Berlin dan belum memenuhi undangan dari kota lain sehingga belum bisa menggambarkan keadaan di sana. Dari tulisan di atas tergambar bahwa suasana Ramadhan hanya terasa pada malam hari saja, itupun hanya di tempat taraweh. Adapun pada siang hari di Berlin tidak terasa suasana Ramadhan. Penduduk asli Berlin memang ada yang tahu bahwa sekarang adalah bulan ramadhan bagi kaum muslimin, tetapi mereka tidak peduli. Di lingkungan kampus, para mahasiswa yang non muslim menanggapi shaum yang dilakukan oleh kaum muslimin dengan tanggapan yang bervariasi. Ada yang sinis, ada yang menganggap aneh, kok mau-maunya orang Islam berlapar-lapar hingga malam dengan alasan yang tidak mereka fahami, ada pula yang merasa salut dan simpati serta menghormati.
Berlin, 10 Oktober 2004
jadi ngebayangin suka buka blog resep masakan ibu-ibu yang sedang mendampingi suaminya tugas di luar negeri…pasti salah satu dari resep-resep itu sudah dicicipi ustad……….selamat ustadz….mudah2an ridho Alloh senantiasa melingkupi da’wah yang ustadz lakukan..dimanapun ustadz berada………………..
ummu shodri